Sejarah Desa Suwat

26 Agustus 2016
Administrator
Dibaca 1.763 Kali
Sejarah Desa Suwat

       Setelah pemerintahan raja Sri Mahaguru tahun 1324-1328 M maka pemerintahan dipegang oleh Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang disebut dalam prasasti Petapan Langgahan tahun 1337 M. selain itu ada pula sebuah patung yang di simpan di Pura Tegeh Koripan termasuk Desa Kintamani. Pada bagian belakang patung itu ada tulisan yang sangat rusak keadaanya. Bagian yang masih dapat dibaca pada baris kedelapan berbunyi: stasura Ratna Bumi Banten diduga adalah arah perwujudan dari raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten.

     Baginda mengangkat seorang mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis , yang tinggal di Desa Tengkulak dekat istana Bedahulu di mana raja Astasura bersemayam. Sebagai pembantunya di angkat  Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di Desa Blahbatuh . para mentrinya disebutkan Krian Girikmana tinggal di Desa Loring Giri (Buleleng) ,Krian Ambiak tinggal di Desa Jimbaran,

Krian Tutur Tunjung tinggal di Desa Tenganan. Sedangkan Krian Buahan tinggal di Desa Batur, Krian Tunjung Biru tinggal di Desa Tianyar, Krian Kopang tinggal di Desa Seraya, dan Walungsingkal tinggal di Desa Taro.

     Raja Sri Astasura tidak mau tunduk lagi di bawah perintah raja putri Tribhuana Tunggaldewi di Majapahit yang memerintah tahun: 1329-1350 M ,adapun alasanya mengingat Bali dari dahulu tetap di bawah lindungan raja Daha. Perhubungan kerajaan Bali dengan Daha sudah berlaku sejak raja putri Gunapriya Dharmapatni dan Dharma Udayana Warmadewa yang memerintah di Bali dari tahun 989-1001 M,namun pada tahun 1293 M Daha ditaklukan oleh Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit maka Bali langsung dikuasai oleh raja Majapahit. 

      Di dalam kitab Negara Kertagama yang gubah oleh pujangga Prapanca yaitu nyanyian 49 bait 4 disebut seorang raja Bali yang murka dan hina kemudian dikalahkan oleh bala tentara Majapahit .

Nyanyian 49 bait 4 menyebutkan sbb:

      Muah ring sekabdesu mesaksi nabi ikang bali nathanya dussila niccha dinon ing bala bhrasta sakweh nasa ars salwiri dusta mangdoh wisastha.

Artinya :

Selanjutnya pada saka 1265 raja Bali yang jahat dan nista diperangi oleh tentara Majapahit dan semua binasa. Takutlah semua pendurhaka pergi menjauh.

Tuduhan Prapanca yang mengatakn ikang Bali natha dussila niccha sebetulnya tidak benar karena raja Bali tersebut sebetulnya seorang raja yang gagah berani dan menghendaki orang Bali tetap berdaulat dan merdeka serta merupakan sebuah Negara yang setingkat atau sejajar dengan Majapahit. Karena sipat kepalawanan dan kebaikan maka ia disebut dengan gelar Paduka Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang berarti : beliau sang raja ibarat delapan dewa kesaktianya sebagai permatanya pulau Bali. Dengan demikian dapat di katakana tuduhan pujangga Prapanca tersebut disebabkan karena raja Astasura tidak mau tunduk dengan raja Majapahit. Dalam tradisi di Bali sering juga disebut dengan nama Dalem Bedahulu yang berarti : Beda = berbeda dan  ulu = kepala ,jadi kepala berbeda badan . hal ini menunjukan bahwa raja tidak mau tundak kepada pemerintah Majapahit.

Selanjutnya arca Siwa-Bhairawa yang terdapat dipura Kebo Edan Pejeng adalah di duga berasal dari jaman pemerintahan  Astasura yaitu sekitar pertengahan abad ke- 14 M. Bairawa adalah bentuk krodha dewa Ciwa penduduk daerah Gianyar menghubungkan arca Dewa Ciwa-Bhairawa dengan tokoh Ki Kebo Iwa yang merupakan salah satu senapati dari raja Gajah Waktera. Sebuah arca kepala yang tersimpan di pura Gaduh di Blahbatuh yang dianggap sebagai arca Kebo Iwa.

      Sebelum Gajah Mada melakuka penyerangan ke Bali maka terlebih dahulu ia berminat menyingkirka Kebo Iwa sebagai orag yag kuat dan sakti di Bali. Jalan yang ditempuh dengan tipumuslihat yaitu raja putri Tribhuana Tunggaldewi mengutus Gajah Mada ke Bali dengan membawa surat yang isinya seakan-akan raja putrid menginginkan persahabatan dengan raja Bedahulu.     

Andaikata raja Bedahulu sependapat dengan isi surat itu hendaknya ia mengirim patih Kebo Iwa ke Majapahit yang akan dikawinkan dengan seorang putri cantik dari Lemah Tulis sebagai pertanda persahabatan. Raja Astasura sedikit tidak curiga bahwa ini suatu tipuan belaka. Berangkatlah Kebo Iwa ke Majapahit bersama Gajah Mada tanpa curiga. Disana ia di bunuh dengan licik. Namun setelah Kebo Iwa meninggal duia belum juga ada tanda-tanda bahwa raja Bali menyerah.

          Amangkubhumi Pasunggrigis mengantikan Kebo Iwa mengorgalisir pasukanya menentang Majapahit . ketika diadakan rapat di Bedahulu membicarakan kematian Kebo Iwa seluruh hadiran sepakat mempertahankan Bali dan tidak mau tunduk kepada Majapahit.

      Setelah itu Gajah Mada mempersiapkan segala sesuatu yang di perlukan untuk menyerang Bali. Terjadilah exspidisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1343  dengan candrasangkala Caka isu rasaksi 

Nabhi (anak panah, rasa, mata, pusat). Pasukan Majapahit dipimpim oleh Gajah Mada sendiri bersama panglima  Arya Damar dibantu oleh beberapa Arya.setelah dipantai Banyuwangi ,tentara Majapahit berhenti sebentar untuk mengatur siasat peperangan.

     Dalam perundingan diputuskan bahwa Bali diserang dari beberapa jurusan seperti: dari timur pantai Bali yaitu dari Desa Tianyar mendarat pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada sedagkan pantai timur Bali dipertahankan oleh panglima Bali Aga yang bernama Ki Tunjung Tutur dan Sri Kopang. Dari pantai utara Bali mendarat pasukan Majapahit di Desa Ularan dengan pimpinanya Arya Ularan, Arya Sentong, dan arya Kutawaringin, sedangkan pantai utara Bali dipertahankan oleh Ki Girikmana, Ki Buah. Selanjutnya dari pantai selatan Bali pasukan Majapahit mendarat di pantai Desa Jimbaran yang dipimpin oleh Arya Kenceng, Arya Pengalasan,dan pihak pasukan Bali dipimpin oleh Ki Tambiyak,Ki Gudang Basur yang gagah berani.

      Demikianlah Bedahulu dikepung dari segala jurusan dan terjadilah pertempuran yang hebat. Pertempuran yang hebat itu menimbulakan korban yag sangat besar pada kedua belah pihak . begitupun putra baginda yang bernama Pangeran Madatama gugur dalam perang tersebut. Kehilangan putra tercinta itu menyebabkan raja Bedahulu Astasura bersedih hati akhirnya sebab utama beliau wafat.Sisa-sisa laskar  Bedahulu dibawah Pasunggrigis masih tetap melawan laskar Majapahit. Gajah Mada akhirnya dapat menahan Ki Pasunggrigis sendiri akhirnya wafat tahun 1357 di Sumbawa dalam tugas menumpas pembrontakan raja Dedela Nata terhadap majapahit. Akhirnya Ki Pasunggrigis dan Dedela Nata sama-sama gugur dalam perang tanding.

     Oleh karena Pasunggrigis tidak dapat bertahan lagi maka sejak itu terjadi kekosongan pemerintahan di daerah Bali.memang sebagian dari tentara ekspedisi Gajah Mada ditempatakan di Bali untuk mengawasi keamanan tetapi ternyata mereka tidak mampu menjamin ketertiban sepenuhnya dan sering terjadi pembrontakan-pembrontakan kecil.

  1. PENGANGKATAN DINASTI SRI KRESNA KEPAKISAN.

       Setelah jatuhnya kerajaan Bedahulu tahun 1343 maka terjadilah kekosongan kepemimpinan di daerah Bali dan sering terjadi perselisihan antara orang-orang Bali Aga dengan pasukan Majapahit yang ditugaskan menjaga keamanan di Bali. Satu-satunya orang yang masih disegani pada waktu itu adalah Patih Ulung tetapi tidak mempunyai wewenang apapun untuk mengatasi situasi yang tidak tentram di Bali.

       Terdorog oleh keinginan luhur untuk menjaga keutuhan Bali maka Patih Ulung bersama dua orang keluarganya Arya Pemacekan, dan Arya Kepasekan memberanikan diri menghadap ke Majapahit yang bertujuan mohon supaya diadakan wakil raja di Bali yang mampu meredakan ketegangan di Bali.

        Kedatangan mereka di Majapahit diterima oleh Gajah Mada. Setelah utusan dari Bali menyampaikan situasi di Bali dan pemerintahan yang diinginkan, Gaja Mada lalu berpikir sejenak. Akhirnya terpikir olehnya bahwa jalan yang terbaik untuk itu adalah mencarikan tokoh yang masih mempunyai hubungan keturunan dengan raja-raja Daha tetapi yang tidak diragukan kesetiaanya dengan Majapahit.

        Setelah dirundingkan dengan raja putri diangkatlah putra terkecil dari Mpu Kepakisan yang bernama : Mpu Kresna Kepakisan (Sri Kresna Kepakisan) seorang keluarga Brahmana yang berasal  Daha (Kediri). Dengan pengangkatan  ini maka terlihat dari perubahan namanya Mpu menunjukan Brahmana berubah menjadi Sri yang menunjukan ksatria.

       Untuk lebih jelasnya usul-usul Sri Kresna Kepakisan maka disini akan dijelasakan silsilahnya sbb: diceritakan Mpu Wira Dharma berputra tiga orang yaitu : Mpu Lampita, Mpu Adnyana, Mpu Pastika , selanjutnya Mpu Pastika berputra dua orang yaitu : Mpu Kuturan berasrama di Lemah Tulis dan Mpu Beradah pergi ke Daha serta menjadi pendeta kerajaan (Bhagawanta) dari raja Airlangga dan dikaitkan dengan cerita calonarang yang amat terkenal di Bali. Kemudian Mpu Beradah berputra seorang yang bernama Mpu Bahula yang kemudian kawin dengan Ratnamanggali . dari perkawinan ini lahirlah beberapa putra : Mpu Pawanasikan, Mpu Asmaranatha, Mpu Kepakisan, dan Mpu Sidhimantra . akhirnya Mpu Panawasikan berputra : Mpu Angsoka,Mpu Niratha, .Mpu Kepakisan berputra empat orang yaitu: tiga putra dan seorang putrid. Putra yang bungsu Mpu Kepakisan diangkat menjadi raja di Bali.

  1. SRI KRESNA KEPAKISAN.

Diangkat menjadi raja di Bali pada tahun caka 1274 =( yogan muni rwan ring bhuwana ) atau tahun 1352 M. Namanya sering pula disebut : DALEM WAWU RAWUH. Dalem Tegal Besung pusat kerajan dipilih Desa Samprangan (sekarang Samplangan) , karena ekspedisi Gajah Mada Desa Samprangan mempunyai arti historis yaitu: sebagai perkemahan Gajah Mada serta mengatur srategi untuk menyerang Bedahulu. Dalam kenyataan menunjukan bahwa jarak Desa Bedahulu ke Samprangan hanya kurang lebih 5 Km.

        Untuk berwibawanya seorang adipati yang akan memegang kendali pemerintahan di daerah Bali yang di anggap rawan itu maka DALEM dibina oleh maha patih Gajah Mada. Beliau diajar tentang kepemimpinan , dilengkapi dengan pakaian kebesaran kadipatyan, alat-alat upacara kerajaan selengkapnya, serta keris si Ganja Dungkul dan sebilah tombak si Olang Guguh.

         Dalam menjalankan pemerintahanya di Bali beliau dibantu oleh beberapa orang Arya yang terdiri dari Arya Daha maupun Arya dari Majapahit yang kesetianya terhadap Majapahit tidak diragukan . para Arya tersebut diantaranya adalah:

  1. Krian Kuta Waringin di Gelgel.
  2. Arya Kenceng di Tabanan.
  3. Arya Tan Wikan di Desa Kaba-Kaba.
  4. Arya Dlancang di Kapal.
  5. Arya Sentong di Carangsari.
  6. Arya Kanuruhan di Tangkas.
  7. Krian Punta di Mambal.
  8. Arya Jurudeh di Temukti.
  9. Krian Tumenggung di Patemon.
  10. Arya Pemacekan di Bondalem.
  11. Arya Beleteng di Pacung.

Sedangakan sebagian patih agung adalah Arya Kepakisan keturunan dari Sri Airlangga yang memerintah di Jawa Timur tahun 1019-1042 M

              Menurut sumber tradisional di Bali diceritakan Airlangga seorang putra Bali keturunan Warmadewa yang diangkat menjadi menantu oleh raja Dharmawangsa di kerajaan Daha di Jawa Timur. Airlangga mempunyai tiga orang putra yaitu: seorang putri dan dua orang putra masing-masing bernama : Sri Jayabaya menurunkan siarya Kadiri dan Sri Arya Kadiri berputra Sirarya Kapakisan yang menyertai kepergian Dalem ke Bali.

              Semasa pemerintahan Sri Kresna Kepakisan di Samprangan diwarnai dengan pembrontakan-pembrontakan oleh di desa-desa Bali Aga seperti :Desa Batur, Cempaga, Songan, Kedisan, Abang,Pinggan, Munting, Manikliyu, Bonyoh, Katung, Taro, Bayan, Tista, Margatiga, Bwahan, Bulakan,Merita,Wasudawa, Bantas, Pedahan, Belong, Paselatan, Kedampal, dan beberapa Desa lainya .

Atas peristiwa pembrontakan yang terus menerus Dalem merasa putus asa dan mengirim utusan ke Majapahit , melaporkan bahwa Dalem tidak mampu mengatasi situasi di Bali.

Namun  Gajah Mada tidak memperkenankan dan Gajah Mada datang sendiri ke Bali dan disambut dengan upacara dengan upacara kebesaran oleh Dalem dan para Arya bertempat diistana Samprangan, maka Gajah Mada menyarankan kepada Dalem dan para Arya, bahwa dalam mengatasi dan menciptakan keamanan serta ketertiban di pulau Bali adalah:

  1. Dalam mengatasi kekacauan hendaknya jangan selalu menggunakan kekuatan senjata, tetapi berikan contoh-contoh yang baik laksanakan asta brata dan sad guna.
  2. Perhatikan kelanjuta pelaksanaan agama dan upacara pada semua kayangan di Bali.
  3. Mengadakan kerja sama dengan keturunan raja-raja Bali Kuna yang masih ada yang disegani oleh rakyatnya.

Dalam persidangan itu pula maka Patih Gajah Mada mewisuda putra Ki Pasunggrigis yaitu : Sri Pasung Giri sebagai mentri muda kerajaan dengan gelar Arya Pasung Giri. Selanjutnya maha Patih Gajah Mada menganugrahkan sebilah keris yang amat bertuah untuk memegang pemerintahan kepada Dalem Sri Kresna Kepakisan yang terkenal bernama : SI LOBAR.

Nah,,,,,, dengan suasana yang agak kondusif Sri Kresna Kepakisan melebarkan sayap pemerintahannya dari Samprangan  ke utara yang sekarang disebut dengan Desa Suwat yang asal mulanya berasal dari kata : SUWAR ULUNG (Suwat Mulung) yang terdiri dari kata : SUWAR berarti sinar/lampu dan ULUNG berati jatuh. Yang artinya : SINAR JATUH yang mempunyai makna sangat identik mengandung arti/makna yaitu: ada kecerahan, kedamian, kesejukan, keharmonisan, ketentraman yang muncul, dalam menata kehidupan, sampai saat ini menjadi sebuah Desa yang masyarakatnya hidup  harmonis, rukun, damai dan tentram yang  lama-kelamaan sekarang menjadi sebutan Desa Suwat, yang masyarakatnya homogen dengan terdiri dari beberapa soroh/bungkusan seperti: Satria  Pungakan Dalem Samprangan, Arya Pemecutan, Arya kebon tubuh, Pande Meranggi, Kemoning,  Pasek Kedangkang, Pasek Pulesari, Cameng, Tegeh kori, Pasek Gelgel, Pasek Salahin, Satria Dalem Saganing, Pasek Bendesa, Pasek Kayu Selem, Pasek Gatep, dll. Yang  hidup berdampingan, saling hormat-menghormati, rukun, damai, tentram dan sejatra, serta menjungjung tinggi  asas  kekeluargaan. Dan banyak bukti-bukti peninggalan jaman Samprangan yang ada di Desa Suwat seperti: adanya peninggalan Dalem Samprangan yang ada di Pura Puseh Batan Nyuh Desa Suwat, Peninggalan Dalem Samprangan di Pura Panti Selukat, , Peninggalan Dalem Samprangan di Pura Panti Tugu (Arya Kebon Tubuh) dan banyak lagi peninggalan-peninggalan jaman samprangan yang ada di Desa Suwat.

Dan Desa Suwat sebelumnya terdiri dari 10 banjar yaitu: Br. Suwat Kaja, Br. Triwangsa, Br. Suwat Kelod, Br. Petak Jeruk, Br. Mulung, Br. Siih, Br. Pande, Br. Melayang. Br. Tengah, Br. Seme. Dan pada tahun 2000 ada  pemilihan Perbekel Desa Suwat yang terdiri dari dua calon, dalam proses pemilihan ini sudah barang tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Entah apa sebabnya pihak yang kalah tidak mau menerima kekalahan sehingga  ada gejolak untuk menolak hasil pemilihan sehingga terjadilah perselisihan antara dua kubu, sehingga kondisi menjadi tidak kondusif, untuk menenangkan situasi dan kondisi ada kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Gianyar untuk mengambil jalan tengah sehingga terjadilah pemekaran wilayah, yaitu: Desa Suwat sebagai Desa induk dan Desa Sumita menjadi Desa pemekaran. Nah dengan keputusan itu sampai saat ini pemerintahanya  berjalan dengan lancar hidup rukun, damai dan  berdampingan.

              Demikian sedikit ulasan sejarah Desa Suwat mudah-mudahan dapat berkenan dan bermanfaat sebagai gambaran/pemikiran dalam menata pelaksanaan  pembangunan yang ada di Desa Suwat. Terima Kasih.

“OM SANTI, SANTI, SANTI OM”